Ragam Aktivitas dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini

Ragam Aktivitas dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini

(Jilid Buku Lucu, Finger Painting, Kreasi dari Benang, Lukisan Biji-bijian)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Ardhiana Yoghisavitrie


 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    ANAK USIA DINI

Anak usia dini merupakan individu yang unik dan menarik. Anak usia dini disebut unik dikarenakan adanya lompatan perkembangan pada perkembangan anak. Anak usia dini menurut NAEYC (National Association for The Education of Young Children) adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 8 tahun, yang tercakup dalam program pendidikan di Taman Penitipan Anak, penitipan anak pada keluarga, pendidikan prasekolah baik itu swasta ataupun negeri, TK, dan SD. 

Anak usia dini juga cenderung beraktivitas melalui permainan dikarenakan proses berpikirnya masih non verbal dan anak usia dini masih belum bisa mengkonkritkan pesan. Adapun karakteristik yang ada pada anak usia dini antara lain :

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa inign tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannya kemudian memasukkannya ke mulutnya. Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mula gemar bertanya meski dalam bahasa yang masih sangat sederhana

  1. Merupakan pribadi yang unik.

Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.

  1. Suka berfantasi dan berimajinasi.

Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata

  1. Masa paling potensial untuk belajar.

Masa itu sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas. Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

  1. Menunjukkan sikap egosentris.

Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlhat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi

  1. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek.

Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal ini.

Menurut Piaget dalam Suparno (2001), anak usia dini termasuk dalam tahapan pra operasional. Tahapan ini dibedakan tahapan perkembangan kognitifnya menjadi dua bagian: 1) umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran simbolis, 2) umur 4-7 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif. Pada tahapan ini anak cenderung berpola pikir simbolik.

Menurut Mashar (2011), anak usia dini disebut juga sebagai usia penjelajah atau usia bertanya. Pendidik harus dapat memberikan stimulasi yang tepat agar anak usia dini dengan berbagai macam karakter yang ada di dalam dirinya dapat berkembang dengan optimal.

Pendidik akan menyiapkan anak usia dini sebagai generasi yang akan datang, sehingga diperlukan kegiatan kegiatan yang tepat sehingga dapat menstimulasi potensi anak dan juga perkembangan anak usia dini. Dengan adanya kegiatan atau aktivitas yang bervariasi dalam lingkungan bermain maka anak usia dini akan bermain sambil belajar.

 

  1. B.    KREATIVITAS PADA ANAK USIA DINI

Menurut Prather dan Gundry dalam Suharnan (2011), kreativitas sering disebut berpikir kreatif (creative thinking) atau berpikir inovatif (innovative thinking). Apabila dikaitkan dengan kemampuan seseorang maka kreativitas juga dapat berkaitan dengan daya cipta. Menurut Buzan dalam Suharnan (2011), kreativitas juga dapat disebut sebagai kecerdasan kreatif (creative intelligence); yaitu kemampuan untuk menghasilkan gagasan gagasan baru yang menarik dan bernilai bagi pemecahan suatu masalah. Produk yang dihasilkan dapat berupa hasil karya cipta yang inovatif.

Kreativitas juga sering dikaitkan dengan bagaimana cara seseorang memecahkan suatu permasalahan dengan cara berpikirnya sendiri dan dapat menghasilkan solusi yang baik. Pola berpikir kreatif ini juga dimiliki anak usia dini. Pola berpikir kreatif dapat diasah melalui kegiatan kegiatan serta aktivitas yang disuguhkan dan diberikan oleh lingkungan sekitar. Dalam hal ini yang berperan cukup besar bagi perkembangan kreativitas anak usia dini adalah orangtua dan guru. Apabila guru hanya memiliki maksimal 2 jam atau 180 menit selama satu hari dalam membimbing anak usia dini, maka peran orangtua lah yang sangat dominan. Dua aspek ini tidak dapat dipisahkan, orangtua perlu juga mempelajari tentang karakteristik anak usia dini dan bagaimana cara menangani. Anak usia dini bukanlah seorang dewasa kecil atau miniatur orangtua, sehingga orangtua tidak dapat serta merta meminta anak agar berpikir sebagaimana pola pikir orang dewasa.

Pola berpikir anak usia dini yang masih bersifat simbolik ini harus sering diasah dan distimulasi. Apabila anak usia dini sering mendapatkan rangsangan atau stimulus yang tepat maka sinaps sinaps yang ada dalam batang otak mereka akan semakin terhubung dan mereka akan semakin cepat memproses sebuah informasi baru yang mereka dapatkan.

Seringkali pada saat anak usia dini melakukan kegiatan atau aktivitas yang bersifat kreatif maka orang yang berada di sekelilingnya akan memberikan pelabelan yang berkonotasi negatif  “anak nakal”, “anak banyak tingkah”, “anak hiperaktif” dan banyak lagi sebutan yang sebenarnya secara tidak langsung akan mematikan pola berpikir kreatif anak usia dini. Ada baiknya dihindari penggunaan kata atau kalimat yang berkonotasi negatif. Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengungkapkan kalimat yang sifatnya menenangkan dengan konotasi yang positif, misalnya seperti : pakai suara yang lembut di dalam kelas à untuk menghindari pemakaian kata jangan berisik/jangan ribut, berjalan dengan perlahan à untuk menghindari kalimat jangan berlarian di dalam kelas, semua berteman semua bersahabat à untuk menghindari kalimat jangan bertengkar, dan masih banyak lagi contoh contoh kalimat yang tidak mematikan pola berpikir kreatif seorang anak.

Pemberian reward juga perlu dalam menstimulus kreativitas anak usia dini. Reward ini diberikan apabila mereka mampu menciptakan sesuatu yang berbeda “differsity is unique” . Kreativitas  akan muncul dengan sendirinya apabila sering dilatih dan distimulus.

Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang dapat dilakukan oleh orangtua di rumah ataupun guru di sekolah dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini. Kegiatannya antara lain : Jilid Buku Lucu, Finger Painting, Kreasi dengan Benang dan Lukisan biji bijian.

Kegiatan atau aktivitas tersebut tidak perlu diberikan batasan yang terlalu mengekang. Dalam pembahasan bab selanjutnya akan ditunjukkan bagaimana cara membuat atau langkah langkah kegiatan yang dapat meningkatkan kreativitas anak tersebut.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    JILID BUKU LUCU

            Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kreatifitas anak usia dini adalah Jilid buku lucu. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan berbuat kreatif dan mengembangkan ketrampilan motorik kasar dan motorik halus anak dalam membuat karya karya kreatif.

            Adapun alat alat yang perlu disiapkan antara lain : anak anak mempersiapkan buku tulis yang akan mereka gunakan dalam membuat karya ini dan kertas putih, daun kering/bunga kering atau biji-bijian kering, lem, cat air atau pewarna buatan, dan deterjen.  Kegiatannya adalah sebagai berikut :

  1. Anak beserta guru mempersiapkan bahan yang akan digunakan
  2. Masukkan deterjen ke dalam air kemudian kocok hingga berbusa
  3. Masukkan cat air ke dalam permukaan busa
  4. Letakkan kertas putih di atas permukaan air sesaat kemudian angkat dan keringkan
  5. Setelah kertas tersebut kering, anak dapat menggunakan hasil karya mereka sebagai sampul buku tulis yang telah disediakan, sebagai penguat anak dapat merekatkan dengan lem
  6. Sebagai variasi anak dapat menggunakan bunga/biji kering sesuaikan dengan kreativitas masing masing

            Apabila tidak ada bahan bahan yang tersebut di atas, maka dapat diganti dengan kertas kado, kardus bekas, plong, tali sepatu atau pita warna warni dan foto-foto. Cara pengerjaannya adalah sebagai berikut :

  1. Anak bersama guru mempersiapkan kertas dan karton yang telah di plong
  2. Kertas kado digunting sesuai pola yang diinginkan
  3. Susun kertas yang sudah diplong bagian pinggirnya dan dilapisi bagian luarnya dengan menggunakan kardus/karton yang sudah diplong
  4. Jahit pinggiran karton/kardus dengan menggunakan tali sepatu atau pita warna warni
  5. Tempelkan guntingan kertas kado pada bagian luar kardus/karton
  6. Jilid buku lucu sudah selesai

 

  1. B.    FINGER PAINTING (Lukisan Jari)

Kegiatan finger painting ini sangatlah mengasyikkan. Anak akan berkembang kreativitasnya dan juga dapat mengembangkan motorik halusnya. Bahan bahan yang perlu disiapkan antara lain : tepung kanji, tepung terigu, serbuk pewarna makanan, air serta kertas gambar. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Anak beserta guru menyiapkan bahan bahan yang diperlukan
  2. Guru memandu anak anak untuk membuat adonan terlebih dahulu sebelum membuat finger painting
  3. Cara membuat bahan adonan : tepung kanji dan tepung terigu diaduk sampai rata. Masukkan air aduk sampai rata sehingga adonan terlihat encer. Langkah selanjutnya adonan dimasak hingga mendidih sambil diaduk terus hingga adonan  mengental seperti lem. Setelah itu, angkat dan dinginkan. Setelah dingin, guru dapat membantu anak untuk membagi adonan dalam beberapa tempat untuk diberi warna sesuai dengan kebutuhan anak.
  4. Guru menyiapkan kertas gambar besar
  5. Anak mewarnai gambar menggunakan bahan adonan finger painting yang sudah disediakan

 

  1. C.    KREASI DARI BENANG

Kegiatan ini sederhana namun mengasyikkan. Tujuan dari kegiatan ini antara lain : meningkatkan kemampuan berpikir dan berbuat kreatif, mengembangkan kemampuan motorik kasar dan halus, dan mengembangkan apresiasi anak terhadap kesenian.

Adapun bahan bahan yang butuh disiapkan adalah : benang kasur, pewarna, air, serta kertas gambar.

Langkah langkah kegiatan adalah :

  1. Anak beserta guru menyiapkan bahan yang diperlukan
  2. Guru memberikan contoh cara membuat adonan yang diperlukan, anak anak bekerja sama untuk membuat adonan yang akan menjadi dasar warna dalam gambar yang nanti mereka akan buat
  3. Masukkan pewarna dalam air lalu diaduk rata
  4. Masukkan benang sekitar 50 cm ke dalam cat buatan
  5. Lipat kertas gambar menjadi dua bagian
  6. Masukkan benang tadi ke dalam lipatan kertas kemudian tekan setelah itu tarik benang tersebut
  7. Di akhir kegiatan anak menceritakan tentang gambar yang mereka buat

 (benang dimasukkan ke dalam adonan pewarna)

 

  1. D.    LUKISAN BIJI BIJIAN

Kegiatan ini meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Alat dan bahan bahan yang digunakan antara lain : biji-bijian, kertas gambar, lem dan pensil.

Langkah langkah kegiatannya adalah sebagai berikut :

  1. Guru dan anak mempersiapkan bahan yang diperlukan
  2. Guru menyiapkan kertas gambar
  3. Anak memberikan lem pada bagian bagian gambar serta menghias gambar dengan menggunakan biji bijian tersebut sesuai kreativitas anak

 (kegiatan siswa sedang menempelkan biji bijian pada gambar)

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Simpulan

Demikian makalah ini diselesaikan jauh dari kata sempurna, adapun beberapa poin yang dapat diambil adalah :

  1. Kreativitas dapat distimulus sejak dini, melalui pengenalan pengenalan kegiatan yang menyenangkan sehingga anak akan dapat mengembangkan kreativitasnya sesuai tahapan usia mereka
  2. Kegiatan yang dipaparkan dalam makalah ini merupakan beberapa contoh kecil yang dapat digunakan sebagai bahan inspirasi dalam mengajar di pendidikan anak usia dini

 

  1. B.    Saran

Saran yang dapat ditujukan kepada semua elemen yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini adalah :

  1. Kreativitas itu identik dengan suasana yang kacau, area bermain yang kotor menurut pemahaman dewasa, namun justru saat anak usia dini berada di area tersebutlah anak anak dapat bermain sambil belajar, jadi jangan takut kotor
  2. Berikan stimulus sedini mungkin sehingga kreativitas dapat berkembang

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Mashar, Riana. 2011. Emosi Anak Usia Dini : dan Strategi Pengembangannya. Jakarta : Kencana

 Rachmawati, Yeni & Euis Kurniawati. 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak. Jakarta : Kencana

 Suparno, Paul.2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Kanisius : Yogyakarta

 —,1992. Child and Nature. Denmark : OMEP

Suyanto, Slamet. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Depdiknas

 Suharnan, M.S. 2011. Kreativitas : Teori dan Pengembangan. Surabaya  : Laros

About these ads

About artdeeane

we share our knowledge
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s